2 December 2020
Telepon: (022) 7797712
berdamai-dengan-macan-tutul-jawa

Macan tutul jawa merupakan salah satu karnivora besar di Jawa yang memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sebagai predator pengendali populasi mangsa. Selain pada ekosistemnya, macan tutul jawa pun berperan menjaga kesehatan manusia dari vektor-vektor penyakit. Melihat dari kacamata budaya dan spiritual, terhitung sejak abad-17 hingga abad-19, macan tutul jawa merupakan lambang kearifan lokal tersendiri. Sayangnya, habitat macan tutul jawa mengalami fragmentasi dan menyebabkan terjadinya pemecahan populasi yang memaksa macan tutul jawa hidup dalam 49 metapopulasi. Lima belas diantaranya nonequilibrium—31% habitatnya tidak memadai dan semakin terisolasi, sehingga mendorong macan tutul jawa pada ujung tombak kepunahan.

Terhitung sejak tahun 1993 hingga 2020, konflik antara manusia dengan macan tutul jawa yang memasuki perkampungan masih terus terjadi. Nyatanya, telah tercatat 180 konflik dalam 17 tahun terakhir. Konflik antar keduanya merupakan masalah yang kompleks dan harus diperhatikan dari segala sisi, baik sosial ekonomi masyarakat maupun satwa. Pendekatan budaya bahwa “semua yang ada di alam merupakan ciptaan Tuhan” dan pendekatan ilmu pengetahuan seperti konservasi khusus yang terfokus pada pelestarian, pembinaan, pemulihan habitat, translokasi, reintrodusi dan pembangunan koridor jelajah dapat menjadi solusi untuk meredam konflik ini. Kolaborasi dari pihak pemerindah, mahasiswa, generasi muda hingga generasi tua tentunya dibutuhkan untuk mendapat sinergi dan keberlangsungan hidup macan tutul, kelancaran ekonomi dan ilmu pengetahuan yang dapat dipertahankan.

Baca Selengkapnya pada tautan “Bisakan Manusia Berdamai dengan Macan Tutul Jawa“, penulis Muhammad Arkan Dzaki-Himbio Unpad

Foto cover: Conservation International/Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Editor: Akeyla

Leave a Reply